Ketika Konsumen Listrik tak Mampu Lagi Bersabar

Tue, Apr 20th 2010, 09:02

Ketika Konsumen Listrik tak Mampu Lagi Bersabar

Berita tak sedap namun ada yang menilai wajar berembus dari Kabupaten Nagan Raya. Serombongan massa dari berbagai kecamatan di kabupaten itu pada Sabtu malam 17 April 2010 menyerbu ke Kantor PLN Ranting Jeuram. Mereka memaki-maki, mengumpat, bahkan menghujat orang-orang PLN disebabkan semakin buruknya pelayanan listrik di wilayah itu. Massa yang tak mampu membendung emosi itu terpaksa ditenangkan oleh polisi dengan tembakan peringatan ke udara.

Tahun lalu, serbuan massa ke pihak PLN juga terjadi di Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Waktu itu, massa sempat mengasari seorang pejabat PLN bahkan merusak sebuah mobil operasional. Penyebabnya juga sama, yaitu listrik yang hidup mati sehingga memunculkan kekecewaan masyarakat.

Persoalan listrik dirasakan semakin gawat. Konsumen semakin sulit membedakan antara pemadaman terjadwal dengan yang tidak terjadwal. Kalau pun ada pengumuman di media massa tentang pemadaman terjadwal namun banyak konsumen yang menilai itu hanya sebagai upaya melepaskan kewajiban. Kondisi di lapangan sangat tak karu-karuan. Bahkan pada saat-saat tertentu, di Kota Banda Aceh misalnya, pemadaman terjadi hampir merata. Tak ada lagi beda antara yang bergilir dengan yang tidak kena gilir.

Masyarakat konsumen listrik tampaknya sudah tak mampu lagi menahan kesabaran. Yang muncul akhir-akhir ini justru ledakan emosi setiap kali listrik mati. Masyarakat semakin sulit memahami kenapa PLN sebagai perusahaan negara yang mengurusi listrik rakyat tak kunjung mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan terjaminnya layanan kepada  masyarakat. Isu PLN merugi atau tidak ada investasi baru tampaknya sudah tidak populer lagi disuarakan. Masyarakat tak mau tahu itu. Yang mereka inginkan adalah bagaimana PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang mengurusi kelistrikan bisa menjamin tersedianya arus listrik untuk kebutuhan masyarakat.

Dalam catatan koran ini, sudah terlalu sering para pimpinan negeri ini, termasuk petinggi PLN menjanjikan normalnya arus listrik dengan berbagai solusi. Tetapi, janji dan berbagai solusi yang ditabur hampir tak pernah menjadi kenyataan. Kalau pun sempat normal beberapa saat, kemudian bermasalah lagi secara berkepanjangan.

Di Subulussalam, misalnya, beberapa waktu lalu seorang aktivis dari Lembaga Analisa dan Advokasi Kebijakan Publik (Lansdkap), Wildan Sastra di hadapan GM PLN Aceh, Zulkifli QIA dan anggota DPR RI, Rifky Harsya menyatakan persoalan kelistrikan di Subulussalam sudah sangat memperihatinkan. Pasalnya, bukan hanya masalah hidup mati listrik tetapi juga persoalan tegangan yang makin ‘melarat.’

Menanggapi keluhan itu, Direktur Operasional PT PLN Wilayah Barat Indonesia, Hari Jaya Pahlawan menegaskan, krisis listrik di Provinsi Aceh yang terjadi sejak pertengahan 2008 akan berakhir bulan Mei 2010. Namun ketika ditanyakan apakah pihak PLN berani menjamin bahwa krisis listrik di Aceh akan berakhir sesuai dengan perencanaan tanpa ada lagi pemadaman bergilir, Hari Jaya Pahlawan tak bisa memastikan hal itu. Alasannya, kalaupun nantinya semua mesin pembangkit listrik yang disewa itu telah dipasang, jika ada peristiwa dan bencana alam yang menimpa sarana listrik, tentunya juga akan kembali dilakukan pemadaman.

Mengalihkan alasan pada bencana dinilai terlalu mengada-ngada. Karena hingga saat ini tak ada pihak manapun yang berani menggugat bencana, termasuk akibat yang ditumbulkan oleh bencana itu sendiri. Yang jadi pertanyaan adalah, ketika kondisi normal–bebas dari bencana alam dan bencana sosial seperti konflik–justru listrik tak bisa menyesuaikan diri. Wajar jika kemudian masyarakat tak mampu lagi membendung emosi hingga terjadi aksi seperti di Lamno atau di Nagan Raya. Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan ada gugatan class action sebagaimana yang kini digalang oleh Koalisi NGO HAM Aceh.

Pos ini dipublikasikan di Berita Tentang Konsumen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s